Resign atau Jadi Ibu Rumah Tangga?
Satu hal yang pasti dirasa oleh semua bunda yang bekerja adalah DILEMA antara resign atau jadi ibu RT? Yes, anda benar! hehehee itupun yang saya alami. :)
Saya menikah tahun 2014, langsung dikaruniai Anak Alhamdulillah, 1 minggu kosongnya. Sebuah rezeki dari Allah dan tentunnya amanah :)
Sedikit saya cerita dulu ya :)
Saya bekerja menjadi Officer Relationship Manager di salah satu Bank Syariah terkemuka di Indonesia sejak tahun 2013. Saat itu saya mendapatkan amanah untuk meningkatkan Funding Cabang tersebut tentunnya bersama sama rekan lainnya. Awalnya saya menikmati pekerjaan itu, karena saya masih sendiri dan memang saatnya saya mencari pengalaman kerja dan membangun network. Saya melamar melalui jalur ODP (Officer Development Program) yang mana tes nya super banyak ada 9 kali tes, yang membuat saya engap hehe tapi Alhamdulillah berhasil. Sempat ada orang-orang yang underestimate, apakah saya bisa? sudah biasa bertemu dengan orang yang menilai sebelah mata, tapi akan terbungkam dengan sendirinya melalui prestasi yang saya miliki, tentunya dengan izin Allah :) tak ada yang tidak mungkin didunia ini, selagi kita usaha :)
Di pekerjaan saya as a banker, saya lakukan yang terbaik, fokus pada pekerjaan dan target yang saya miliki. Saya tipikal orang yang fokus dan insya Allah tanggung jawab atas amanah yang Allah berikan. Di kantor ya sewajarnya saja, bergaul sewajarnya, tidak menyikut siapapun, baik kepada siapa saja, dan menjalani kewajiban yang sepatutnya saya kerjakan. dan Alhamdulillah hasilnya pun sangat baik ketika saya bekerja disana, saya selalu mendapatkan Nilai A setiap tahunnya, tentunnya itu bukan kehebatan saya, tapi karena Allah mengizinkannya :)
Saya menikah dengan teman satu kantor (Bayu Bridani), pendekatan hanya 3 bulan saja, lalu beliau mengajak saya menikah :) Ahamdulillah :) karena dari pihak keluarga meragukannya kenapa pendekatan singkat sekali, akhirnya kami tunggu 1 tahun untuk menjalani persiapan dan saling mengenal satu sama lain.
Karena begitu, regulasi kantor harus salah satu resign dari pekerjaan, yg mana alhasil suami saya yg resign duluan. Kenapa? karena saya ada ikatan dinas 5 tahun lamannya, daripada kena pinalty. hehe
Selama mengawali pernikahan dan memiliki anak kami saling bejibaku, dan saya merasa sangat lelah menjadi karyawan. Karena saya harus meninggalkan anak saya dan di rawat oleh suami saya dirumah karena anak saya ga ada yang jaga, sedangkan suami saya juga bingung mau kerja bagaimana dengan anak, kami ga mau meninggalkan baby bersama pembantu. Lalu saya harus berangkat setelah subuh lalu pulang larut malam. Sedangkan tiap malam, meng ASI terus, dan saya kurang sekali istirahat, bisa dihitung saya tidur hanya 3 jam kurang setiap harinya, karena pagi sampe malam saya bekerja, tengah malam sampe subuh saya terbangun-bangun dan harus selalu stand by meng ASI anak saya (Gazza Zavier Ravaana).
Karena kurang rehatlah, terkadang saya merasa sakit kepala, pusing dan lemas. Ke kantor pun capek banget, mana naik angkutan umum dan seringnya berdiri kalau naik KRL. Lelah buuukk
Akhirnya saya memutuskan untuk mengajukkan Pensiun DIni, namun ga di Approve karena katanya management juga bingung apa alasannya harus di Approve. Ya sudahlah terserah, mau dihalang halangi saya sudah pasrah sekali. Apalagi suami saya pernah ditipu orang di bisnisnya , masuk rumah sakit pula karena sedikit depresi, karena ada sosok perempuan yang saya awalnya kagumi dan saya percaya untuk menjadi partner, ternyata penipu besar. Astagfirullah :)
Saya dan suami sering ngobrol, yakin mau bisnis saja kita? yakin dengan ketidakpastian? alias gajian ga pasti :)
saya coba berpikir keras, baca sana sini, doa terus terusan. Yang mana banyak yang bilang kalau mau bisnis jangan dua-duanya karena ekonomi bisa jatoh. salah satu harus fixed income.
Whateverrrr i don't care......
Saya berbisnis karena sebagai penambah aktifitas saya selama saya jadi Ibu Rumah Tangga.
Sata belajar sana sini, untuk investasi ilmu.
Sedikitpun saya merasa ga takut akan kekurangan, karena saya percaya bahwa Allah Maha Pemberi Solusi. Saya lakukan semua ini, untuk suami dan anak saya. Saya ingin melihat perkembangan anak saya dari waktu ke waktu, materi bisa dicari dengan cara apa saja, tapi perkembangannya apakah bisa kita beli ditempat lain? Tidak. Apakah kedekatan dengan anak bisa didapat di tempat lain? Tidak juga. Saya dan suami punya cita-cita menjadikan anak-anak kami menjadi penghapal Al-Qur'an, jadi mesti hati-hati banget dalam berkata, bersikap dan mengarahkan. Jadi kami putuskan untuk melakukan semuanya dengan bersama-sama, terkait keuangan keluarga kami sudah pasrah, itu sudah Allah atur :)
Setelah saya resign Alhamdulillah selalu merasa cukup, rezeki selalu ada, saya menjadi lebih tenang, bebas, dan bahagia :) jadi lebih banyak bersyukur dari setiap hal yang ada :) semakin yakin bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, jadi untuk apa mengejar dunia terus-terusan. Ga ada ujungnya, yang ada haus iman.
Jadi, bagi para Bunda yang sedang dilematis mau resign atau enggak. Jangan gunakan alat hitung Manusia, tapi gunakan alat hiung Allah. Insya Allah rezeki mengalir dari arah manapun :) Namun, bunda harus sabar dan terus menikmati semua proses yang dihadapi. Teruslah kreatif, ikut komunitas, cobalah berani untuk berdagang dan terbuka pemikiran dan masukan dari siapapun.
Resign bukan berarti Rezeki terhenti, inget itu ya bunda bunda Shalehah ;)
Buat perencanaan yang matang sebagai solusi lain, kreatif dan tentu harus kompak dengan suami
Karena tugas bunda semakin berat :)
tapi engga apa apa, itu tantangan, Insya Allah Jannah :)

Komentar
Posting Komentar